
USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
EDUCATION
CAMP SEBAGAI UAPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA SISWA SD
BIDANG KEGIATAN:
PKM-GAGASAN TULIS
Diusulkan oleh:
Ihsanul Muflihin (13040112140152)
DAFTAR ISI
Halaman
Judul…………………………………………………………………i
Lembar
Pengesahan……………………………………………………………ii
Daftar
Isi ……………………………………………………………………...iv
Ringkasan……………………………………………………………………...v
Pendahuluan
…………………………………………………………………..1
Gagasan
……………………………………………………………………….4
Kesimpulan
……………………………………………………………………9
Daftar
Pustaka ………………………………………………………………...10
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Masalah
Belajar memegang peranan penting
dalam kehidupan manusia baik yang berkaitan dengan perilaku manusia maupun cara
berpikirnya. Menurut Anni (2007 : 2) konsep tentang belajar mengandung tiga
unsur yaitu : perubahan tingkah laku sebagai wujud dari hasil belajar,
perubahan perilaku tersebut didahului karena proses pengalaman, bersifat
permanen. Belajar merupakan cara untuk meningkatkan sumber daya manusia. Proses
belajar yang baik adalah belajar yang dilakukan sepanjang hayat. Meskipun
proses belajar terus berlangsung selama usia manusia, namun lima tahun pertama
usia anak bisa mempengaruhi kehidupan anak secara permanen.
Perkembangan anak penting dijadikan
perhatian khusus bagi orangtua karena proses tumbuh kembang anak akan
mempengaruhi kehidupan mereka pada masa mendatang. Jika perkembangan anak luput
dari perhatian orangtua (tanpa arahan dan pendampingan orangtua), maka anak
akan tumbuh seadanya sesuai dengan yang hadir dan menghampiri mereka.
Pertumbuhan anak dalam lingkungan sekolah dinamakan peserta didik. Departemen
Pendidikan Nasional (2003) menegaskan bahwa, peserta didik adalah angota
masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui jalur, jenjang dan jenis
pendidikan. Peserta didik usia SD/MI adalah semua anak yang berada pada rentang
usia 6-12/13 tahun yang sedang berada dalam jenjang pendidikan SD/MI.
Anak yang berada di kelas awal SD
adalah anak yang berada pada rentangan usia dini. Masa usia dini ini merupakan
masa perkembangan anak yang
pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupannya. Oleh karena
itu, pada masa ini seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong
sehingga akan berkembang secara optimal. Karakteristik pertama anak SD adalah senang bermain.
Karakteristik ini menuntut guru SD untuk melaksanakan kegiatan pendidikan yang
bermuatan permainan lebih – lebih untuk kelas rendah. Karakteristik yang kedua
adalah senang bergerak, orang dewasa dapat duduk berjam-jam, sedangkan anak SD
dapat duduk dengan tenang paling lama sekitar 30 menit. Karakteristik yang
ketiga dari anak usia SD adalah anak senang bekerja dalam kelompok. Dari
pergaulanya dengan kelompok sebaya, anak belajar aspek-aspek yang penting dalam
proses sosialisasi, seperti: belajar memenuhi aturan-aturan kelompok, belajar
setia kawan, belajar tidak tergantung pada diterimanya dilingkungan, belajar
menerimanya tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang lain secara sehat
(sportif), mempelajari olah raga dan membawa implikasi bahwa guru harus
merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar
dalam kelompok, serta belajar keadilan dan demokrasi. Karakteristik yang
keempat anak SD adalah senang merasakan atau melakukan/memperagakan sesuatu
secara langsung. Ditunjau dari teori perkembangan kognitif, anak SD memasuki
tahap operasional konkret. Dari apa yang dipelajari di sekolah, ia belajar
menghubungkan konsep-konsep baru dengan konsep-konsep lama.
Anak usia SD ditandai oleh tiga
dorongan ke luar yang besar yaitu kepercayaan anak untuk keluar rumah dan masuk
dalam kelompok sebaya; kepercayaan anak memasuki dunia permainan dan kegiatan
yang memperlukan keterampilan fisik; dan
kepercayaan mental untuk memasuki dunia konsep, logika dan simbolis
serta komunikasi orang dewasa.
Dengan demikian
pemahaman terhadap karakteristik peserta didik dan tugas-tugas perkembangan
anak SD dapat dijadikan titik awal untuk menentukan tujuan pendidikan di SD,
dan untuk menentukan waktu yang tepat dalam memberikan pendidikan sesuai dengan
kebutuhan perkembangan anak itu sendiri.
Salah satu hal yang perlu ditanamkan
sejak dini kepada anak adalah tentang minat baca. Membaca dapat menambah
wawasan dan melatih anak untuk mempertajam analisis apa yamg dilihat.
Akhir-akhir ini, bencana alam sering terjadi di berbagai belahan bumi. Pada
tahun 2008 tercatat banjir dan tanah longsor terjadi di China, India bahkan
sampai Eropa, angin topan terjadi di Amerika Serikat dan gempa bumi terjadi di
China dan Jepang serta masih banyak lagi bencana-bencana yang terjadi di
belahan bumi lainnya termasuk di indonesia. Masalah lingkungan hidup di
Indonesia saat ini antara lain: penebangan hutan secara liar atau pembalakan
hutan; polusi air dari limbah industri dan pertambangan; polusi udara di daerah
perkotaan (Jakarta merupakan kota dengan udara paling kotor ke 3 di dunia);
asap dan kabut dari kebakaran hutan; kebakaran hutan permanen/tidak dapat
dipadamkan; perambahan suaka alam/suaka margasatwa; perburuan liar, perdagangan
dan pembasmian hewan liar yang dilindungi; penghancuran terumbu karang;
pembuangan sampah B3/radioaktif dari negara maju; pembuangan sampah tanpa
pemisahan/pengolahan; semburan lumpur liar di Sidoarjo, Jawa Timur; hujan asam
yang merupakan akibat dari polusi udara. Bencana alam yang disebabkan oleh ulah
manusia harus disikapi dengan mengurangi akar permasalahan kenapa hal ini bisa
terjadi (Asep, 2009).
Pengembangan kecintaan anak terhadap
lingkungan dapat diberikan melalui lingkungan keluarga maupun sekolah baik
sekolah formal maupun non formal. Kecintaan lingkungan dapat diberikan pada
semua tingkatan pendidikan mulai dari pendidikan prasekolah, pendidikan dasar
hingga pendidikan tinggi. Pengetahuan dan pengembangan kecintaan anak terhadap
lingkungan juga sesuai dengan kurikulum pembelajaran di SD yaitu salah satunya
materi tentang pengetahuan alam lebih
menekankan pada objek fisik, kehidupan, bumi dan lingkungan. Dalam
melaksanakan pendidikan anak usia sekolah dasar berorientasi pada kebutuhan
anak, belajar melalui bermain,
lingkungan yang kondusif, menggunakan pembelajaran terpadu,
mengembangkan berbagai kecakapan hidup, menggunakan berbagai media edukatif dan
sumber belajar, dilaksanakan secara bertahap dan berulang –ulang.
Media adalah sumber belajar. Secara
luas media dapat diartikan dengan manusia, benda ataupun peristiwa yang membuat
kondisi siswa untuk memungkinkan memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau
sikap (Gerlach dan Elly dalam Mudhofir, 1996 : 81). Terdapat banyak jenis dan
macam media pembelajaran dari yang paling sederhana dan murah hingga yang canggih
dan mahal. Berbagai jenis media pembelajaran yang sudah ada tidak akan dapat
diketahui tingkat keberhasilannya apabila pengetahuan dan ketrampilan yang
telah diterima oleh siswa belum dapat diterapkan. Salah satu bentuk penerapan
model pembelajaran yang efektif khususnya dalam meingkatkan rasa cinta
lingkungan adalah dengan mengajak siswa untuk berkemah (camping) guna memaknai dan melatih ketrampilan siswa untuk
mencintai dan melestarikan lingkungan sekitarnya. Kegiatan berkemah (camping) di sini bukanlah sekedar
kegiatan berkemah yang hanya untuk bersenang-senang, akan tetapi kegiatan ini
bersifat mendidik dan melatih anak-anak untuk peka terhadap lingkungan
sekitarnya. Camping yang semacam inilah yang kemudian dapat dikatakan sebagai education camp. Untuk itu, upaya
meningkatkan rasa cinta lingkungan melalui education
camp diharapkan dapat menjadi wahana
bermain yang mendidik bagi anak dalam merangsang perkembangan anak melalui
contoh konkrit.
Dengan berlandaskan pada fakta
tersebut, maka education camp diharapkan
menjadi sebuah suplemen bagi siswa SD untuk
meningkatkan rasa cinta lingkungan. Oleh karena itu diperlukan adanya program education camp bagi siswa SD khususnya
dalam meningkatkan rasa cinta siswa terhadap lingkungan.
Tujuan
Tujuan
penyusunan program kreativitas mahasiswa gagasan tulis ini adalah untuk mendeskripsikan konsep Education Camp sebagai
alternatif meningkatkan minat baca siswa SD dan mengkaji implementasi
model Education Camp dalam meningkatkan minat baca siswa SD.
Manfaat
Manfaat
ini pembuatan proposal ini adalah memberikan kontribusi ilmiah pada bidang pendidikan anak usia dini berupa Education
Camp
yang dapat meningkatkan rasa cinta pada lingkungan dan memberikan kontribusi ide dalam upaya meningkatkan rasa cinta lingkungan bagi siswa SD.
GAGASAN
Belajar dilakukan oleh setiap
individu. Belajar memegang peranan penting dalam kehidupan manusia baik yang
berkaitan dengan perilaku manusia maupun cara berpikirnya. Menurut Anni (2007 :
2) konsep tentang belajar mengandung tiga unsur yaitu : perubahan tingkah laku
sebagai wujud dari hasil belajar, perubahan perilaku tersebut didahului karena
proses pengalaman, bersifat permanen. Belajar merupakan cara untuk meningkatkan
sumber daya manusia. Proses belajar yang baik adalah belajar yang dilakukan
sepanjang hayat. Meskipun proses belajar terus berlangsung selama usia manusia,
namun lima tahun pertama usia anak bisa mempengaruhi kehidupan anak secara
permanen.
Perkembangan anak penting dijadikan
perhatian khusus bagi orangtua karena proses tumbuh kembang anak akan
mempengaruhi kehidupan mereka pada masa mendatang. Jika perkembangan anak luput
dari perhatian orangtua (tanpa arahan dan pendampingan orangtua), maka anak
akan tumbuh seadanya sesuai dengan yang hadir dan menghampiri mereka. Pertumbuhan
anak dalam lingkungan sekolah dinamakan peserta didik. Departemen Pendidikan
Nasional (2003) menegaskan bahwa, peserta didik adalah angota masyarakat yang
berusaha mengembangkan dirinya melalui jalur, jenjang dan jenis pendidikan.
Peserta didik usia SD/MI adalah semua anak yang berada pada rentang usia
6-12/13 tahun yang sedang berada dalam jenjang pendidikan SD/MI. Jadi peserta
didik berlatih untuk mengembangkan dirinya di luar keluarga.
Awal pendidikan anak sekolah dasar
yaitu anak yang berada pada rentangan usia dini. Masa usia dini ini merupakan
masa perkembangan anak yang
pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupannya. Oleh karena
itu, pada masa ini seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong
sehingga akan berkembang secara optimal. Karakteristik pertama anak SD adalah senang bermain.
Karakteristik ini menuntut guru SD untuk melaksanakan kegiatan pendidikan yang
bermuatan permainan lebih – lebih untuk kelas rendah. Karakteristik yang kedua
adalah senang bergerak, orang dewasa dapat duduk berjam-jam, sedangkan anak SD
dapat duduk dengan tenang paling lama sekitar 30 menit. Karakteristik yang
ketiga dari anak usia SD adalah anak senang bekerja dalam kelompok. Dari
pergaulanya dengan kelompok sebaya, anak belajar aspek-aspek yang penting dalam
proses sosialisasi, seperti: belajar memenuhi aturan-aturan kelompok, belajar
setia kawan, belajar tidak tergantung pada diterimanya dilingkungan, belajar
menerimanya tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang lain secara sehat
(sportif), mempelajari olah raga dan membawa implikasi bahwa guru harus
merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar
dalam kelompok, serta belajar keadilan dan demokrasi. Karakteristik yang
keempat anak SD adalah senang merasakan atau melakukan/memperagakan sesuatu
secara langsung. Ditunjau dari teori perkembangan kognitif, anak SD memasuki
tahap operasional konkret. Dari apa yang dipelajari di sekolah, ia belajar
menghubungkan konsep-konsep baru dengan konsep-konsep lama. Jadi anak umunya
mencoba dan menirukan apa yang dia tangkap dengan apa yang dia ketahui
sebelumnya.
Salah satu hal yang perlu ditanamkan
sejak dini kepada anak adalah tentang kecintaan mereka terhadap lingkungan.
Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber
daya alam seperti tanah, air, energi surya, mineral,
serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan, dengan
kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana
menggunakan lingkungan fisik tersebut (wikipedia.co.id). Akhir-akhir ini,
bencana alam sering terjadi di berbagai belahan bumi. Pada tahun 2008 tercatat
banjir dan tanah longsor terjadi di China, India bahkan sampai Eropa, angin
topan terjadi di Amerika Serikat dan gempa bumi terjadi di China dan Jepang
serta masih banyak lagi bencana-bencana yang terjadi di belahan bumi lainnya
termasuk di indonesia. Masalah lingkungan hidup di Indonesia saat ini antara
lain: penebangan hutan secara liar atau pembalakan hutan; polusi air dari
limbah industri dan pertambangan; polusi udara di daerah perkotaan (Jakarta
merupakan kota dengan udara paling kotor ke 3 di dunia); asap dan kabut dari
kebakaran hutan; kebakaran hutan permanen/tidak dapat dipadamkan; perambahan
suaka alam/suaka margasatwa; perburuan liar, perdagangan dan pembasmian hewan
liar yang dilindungi; penghancuran terumbu karang; pembuangan sampah
B3/radioaktif dari negara maju; pembuangan sampah tanpa pemisahan/pengolahan;
semburan lumpur liar di Sidoarjo, Jawa Timur; hujan asam yang merupakan akibat
dari polusi udara. Bencana alam yang disebabkan oleh ulah manusia harus
disikapi dengan mengurangi akar permasalahan kenapa hal ini bisa terjadi (Asep,
2009).
Pengembangan kecintaan anak terhadap
lingkungan dapat diberikan melalui lingkungan keluarga maupun sekolah baik
sekolah formal maupun non formal. Kecintaan lingkungan dapat diberikan pada
semua tingkatan pendidikan mulai dari pendidikan prasekolah, pendidikan dasar
hingga pendidikan tinggi. Pengetahuan dan pengembangan kecintaan anak terhadap
lingkungan juga sesuai dengan kurikulum pembelajaran di SD yaitu salah satunya
materi tentang pengetahuan alam lebih
menekankan pada objek fisik, kehidupan, bumi dan lingkungan. Dalam
melaksanakan pendidikan anak usia sekolah dasar berorientasi pada kebutuhan
anak, belajar melalui bermain,
lingkungan yang kondusif, menggunakan pembelajaran terpadu,
mengembangkan berbagai kecakapan hidup, menggunakan berbagai media edukatif dan
sumber belajar, dilaksanakan secara bertahap dan berulang –ulang.
Media adalah sumber belajar. Secara
luas media dapat diartikan dengan manusia, benda ataupun peristiwa yang membuat
kondisi siswa untuk memungkinkan memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau
sikap (Gerlach dan Elly dalam Mudhofir, 1996 : 81). Terdapat banyak jenis dan
macam media pembelajaran dari yang paling sederhana dan murah hingga yang
canggih dan mahal. Berbagai jenis media pembelajaran yang sudah ada tidak akan
dapat diketahui tingkat keberhasilannya apabila pengetahuan dan ketrampilan yang
telah diterima oleh siswa belum dapat diterapkan. Salah satu bentuk penerapan
model pembelajaran yang efektif khususnya dalam meningkatkan rasa cinta
lingkungan adalah dengan mengajak siswa untuk berkemah (camping) guna memaknai dan melatih ketrampilan siswa untuk
mencintai dan melestarikan lingkungan sekitarnya. Kegiatan berkemah (camping) di sini bukanlah sekedar
kegiatan berkemah yang hanya untuk bersenang-senang, akan tetapi kegiatan ini
bersifat mendidik dan melatih anak-anak untuk peka terhadap lingkungan
sekitarnya. Kemah yang semacam inilah yang kemudian dapat dikatakan sebagai education camp. Untuk itu, upaya
meningkatkan rasa cinta lingkungan melalui education
camp diharapkan dapat menjadi wahana
bermain yang mendidik bagi anak dalam merangsang perkembangan anak melalui
contoh konkrit.
Dengan berlandaskan pada fakta
tersebut, maka education camp
diharapkan menjadi sebuah suplemen bagi
siswa SD untuk meningkatkan rasa cinta lingkungan. Oleh karena itu diperlukan
adanya program education camp bagi siswa
SD khususnya dalam meningkatkan rasa cinta siswa terhadap lingkungan.
Urgensi Educatian Camp dan Peranannya
Karakteristik yang ketiga dari anak usia SD adalah anak
senang bekerja dalam kelompok. Dari pergaulanya dengan kelompok sebaya, anak
belajar aspek-aspek yang penting dalam proses sosialisasi, seperti: belajar
memenuhi aturan-aturan kelompok, belajar setia kawan, belajar tidak tergantung
pada diterimanya dilingkungan, belajar menerimanya tanggung jawab, belajar
bersaing dengan orang lain secara sehat (sportif), mempelajari olah raga dan
membawa implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang
memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok, serta belajar
keadilan dan demokrasi. Karakteristik yang keempat anak SD adalah senang
merasakan atau melakukan/memperagakan sesuatu secara langsung. Ditunjau dari
teori perkembangan kognitif, anak SD memasuki tahap operasional konkret. Dari
apa yang dipelajari di sekolah, ia belajar menghubungkan konsep-konsep baru
dengan konsep-konsep lama. Jadi anak umunya mencoba dan menirukan apa yang dia
tangkap dengan apa yang dia ketahui sebelumnya.
Salah
satu hal yang perlu ditanamkan sejak dini kepada anak adalah tentang kecintaan
mereka terhadap lingkungan. Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik
yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energi surya,
mineral,
serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan, dengan
kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana menggunakan
lingkungan fisik tersebut (wikipedia.co.id). Akhir-akhir ini, bencana alam
sering terjadi di berbagai belahan bumi.
Pengembangan
kecintaan anak terhadap lingkungan dapat diberikan melalui lingkungan keluarga
maupun sekolah baik sekolah formal maupun non formal. Kecintaan lingkungan
dapat diberikan pada semua tingkatan pendidikan mulai dari pendidikan
prasekolah, pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Pengetahuan dan
pengembangan kecintaan anak terhadap lingkungan juga sesuai dengan kurikulum
pembelajaran di SD yaitu salah satunya materi tentang pengetahuan alam lebih menekankan pada objek
fisik, kehidupan, bumi dan lingkungan. Dalam
melaksanakan pendidikan anak usia sekolah dasar berorientasi pada kebutuhan
anak, belajar melalui bermain,
lingkungan yang kondusif, menggunakan pembelajaran terpadu,
mengembangkan berbagai kecakapan hidup, menggunakan berbagai media edukatif dan
sumber belajar, dilaksanakan secara bertahap dan berulang –ulang. Dengan
berlandaskan pada fakta tersebut, maka education
camp diharapkan menjadi sebuah suplemen bagi siswa SD untuk meningkatkan rasa cinta lingkungan.
Implementasi
Program
Meliputi tahap perencanaan kegiatan yang dilakukan bersama-sama dengan anak-anak
SD. Pada tahap ini siswa SD telah
dipersiapkan untuk melakukan aktivitas pembelajaran pendidikan tentang
lingkungan memperoleh pengetahuan dan keterampilan tentang cara meningkatkan raca cinta lingkungan yang sesuai pada situasi kondisi alam yang
mereka tempati di kelompoknya masing-masing.
Tahap pelaksanaan rutin
Education Camp
meliputi kegiatan berkemah yang
diadakan setiap minggu dengan didampingi guru mata pelajaran pendidikan
lingkungan; Diklat Kader; Refleksi Alam; pelatihan keterampilan pembuatan alat pembersih
sampah, penanaman masal di sekolah dan member pupuk tempat perkemahan sebgaai
bentuk rasa cinta alam, pengevaluasian lembar evaluasi yang telah diisi.
Pada tahap
evaluasi, seluruh program kegiatan dievaluasi agar diketahui sejauh mana
tingkat keberhasilan, dari tahap persiapan sampai pelaksanaan kegiatan. Salah
satunya dengan menganalisis angket tentang pelaksanaan program yang dibagikan
kepada remaja karang taruna. Penyusunan laporan dilakukan
setelah seluruh program dilaksanakan.
Adapun tahap-tahapnya adalah sebagai
berikut:
Tahap
Persiapan
Tahap pertama merupakan
tahap persiapan sosial. Pada tahap ini akan dipersiapkan ketua kelompok siswa
SD dan pendamping masing-masing kelompok
kemah sebagai pengelola dan pelaksana kegiatan ” Education Camp”.
ketua kelompok
siswa SD dan pendamping masing-masing kelompok
kemah yang sudah dipersiapkan, diharapkan dapat mengkondisikan
anggota-anggota kelompok yang lain untuk menggunakan ” Education Camp”. Luaran yang didapat dalam tahap ini adalah siswa
SD bisa berpartisipasi dalam menerapkan ”
Education Camp” yang berupa suplemen kegiatan untuk meningkatkan rasa cinta
lingkungan
Tahap Perencanaan Kegiatan
Kegiatan
direncanakan bersama-sama dengan kelompok kemah yakni siswa SD dengan
didampingi guru mata pelajaran. Tahap kedua
merupakan tahap persiapan kader. Pada tahap ini, siswa SD tergabung dalam
kelompok kecil dalam perkemahan yang telah dipersiapkan sebagai kader ”Education
Camp” akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan tentang cara tambahan untuk meningkatkan raca cinta lingkungan
sekitarnya. Selanjutnya kader ”Education Camp” membuat perencanaan
kegiatan yang sesuai dengan permasalahan lingkungan yang dihadapi siswa SD di
kelompoknya masing-masing.
Tahap Pelaksanaan Rutin Education Camp
Kegiatan Education
Camp dilaksanakan satu minggu sekali secara bergantian antara satu sekolah
yang ditunjuk pada saat pertemuan kelompok
siswa yang meliputi diskusi cara meningkatkan rasa
cinta lingkungan; motivation Training pentingnya peran siswa dalam
meningkatkan rasa cinta lingkungan dan dilanjutkan dengan diklat kader; pelatihan
keterampilan membuat alat pembersih sampah misalnya tong sampah yang diberi gambar bertema lingkungan;
pemberian materi berhubungan dengan teladan, bimbingan, komunikasi yang baik
bagi anak, serta penanaman agama lebih dini pada anak; pengevaluasian lembar
evaluasi yang telah diisi anak-anak SD dalam angket “Education Camp”
pada setiap pertemuan; pemberian hasil evaluasi yang disajikan dalam bentuk
Kartu Cinta Lingkungan (KCL) untuk
mengetahui perkembangan pecapaian tujuan.
Program Education Camp terdiri
dari 5 kegiatan utama yaitu pembuatan,
sosialisasi, dan evaluasi kegiatan Education Camp; pertemuan
rutin kelompok siswa SD; pelatihan keterampilan pembuatan alat lingkungan;
Diklat Kader; dan Refleksi alam. Secara umum kegiatan-kegiatan tersebut dapat
diterima oleh siswa SD dan dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap
pentingnya cinta lingkungan di daerah tersebut untuk memberikan teladan dalam meningkatkan
rasa cinta lingkungan. Hal ini dapat dilihat dari semakin aktifnya siswa SD
untuk mengisi lembar evaluasi dari minggu ke minggu serta meningkatnya grafik
Kartu Cinta Lingkungan yang terdapat dalam angket Education Camp.
Kontrak Waktu Education Camp
Kontrak
waktu Education Camp adalah salah satu produk program Education Camp yang
diperuntukkan bagi siswa SD dalam meningkatkan rasa cinta lingkungan. Kontrak
waktu ini berisi kesepakatan antara siswa dan pendamping dalam membuat jadwal kegiatan
kemah, pengetahuan akan lingkungan, pengenalan Education Camp dalam meningkatkan
rasa cinta lingkungan, tips meningkatkan rasa cinta lingkungan, contoh alat dan
cara meningkatkan rasa cinta lingkungan, lembar evaluasi yang harus diisi oleh siswa setiap selesai
kegiatan, serta Kartu Cinta
Lingkungan (KCL) untuk mengetahui pencapaian tujuan program.
Pertemuan Rutin Kelompok Siswa
Agenda
kegiatan pertemuan rutin kemah siswa SD secara umum merupakan kolaborasi antara
kegiatan yang biasa dilaksanakan setiap pertemuan rutin dengan program Education
Camp yaitu pembagian, penjelasan, dan evaluasi Education Camp; penyuluhan tentang peningkatan rasa cinta lingkungan; diskusi lingkungan; serta pemberian materi berhubungan dengan cara
meningkatkan rasa cinta lingkungan . Dalam penyampaian materi program Education Camp dilakukan
kerja sama dengan lembaga lingkungan hidup, tokoh masyarakat atau pengisi acara
agar lebih diperhatikan oleh siswa SD.
Diklat Kader
Agenda utama
Diklat Kader yaitu penyuluhan tentang teladan dalam meningkatkan rasa cinta
lingkungan. Hasil yang dicapai setelah kegiatan ini adalah siswa SD mengetahui
pentingnya teladan, refleksi alam dan diskusi kelompok dalam meningkatkan rasa
cinta lingkungan dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Peserta
Diklat Kader merupakan kader penggerak siswa SD dan perwakilan sekolah lain.
Melalui
berbagai tentang sisi positif meningkatkan rasa cinta pada lingkungan. Selain
itu siswa yang mengikuti Eduction Camp
benar-benar dapat menjadi model, mengembangkan rasa cinta terhadap lingkungan
alam dan keterampilan dalam membuat alat dan menggunakan alat pembersih sampah
misalnya sehingga anak dapat memahami kegiatan untuk meningkatkan rasa cinta
lingkungan melalui membaca dengan adanya suatu suplemen tambahan yakni dalam
kegiatan Education Camp.
KESIMPULAN
Perkembangan
anak penting dijadikan perhatian khusus bagi orangtua karena proses tumbuh
kembang anak akan mempengaruhi kehidupan mereka pada masa mendatang. Proses
antara lain pada tahapan sekolah dasar. Peserta didik usia SD/MI adalah semua
anak yang berada pada rentang usia 6-12/13 tahun yang sedang berada dalam
jenjang pendidikan SD/MI
Karakteristik anak di SD antara lain senang bermain, senang bergerak, senang
bekerja dalam kelompok, senang merasakan atau melakukan/memperagakan sesuatu
secara langsung.
Salah satu hal
yang perlu ditanamkan sejak dini kepada anak adalah tentang kecintaan mereka
terhadap lingkungan. Kecintaan ini dapat dibentuk melalui suatu media. Media
adalah sumber belajar. Media dapat membuat kondisi siswa untuk memungkinkan
memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Salah satu bentuk penerapan
model pembelajaran yang efektif khususnya dalam meningkatkan rasa cinta
lingkungan adalah dengan mengajak siswa untuk berkemah (camping) guna memaknai dan melatih ketrampilan siswa untuk
mencintai dan melestarikan lingkungan sekitarnya. Kegiatan berkemah (camping)
di sini bukanlah sekedar kegiatan berkemah yang hanya untuk bersenang-senang,
akan tetapi kegiatan ini bersifat mendidik dan melatih anak-anak untuk peka
terhadap lingkungan sekitarnya. Kemah yang semacam inilah yang kemudian dapat
dikatakan sebagai education camp.
Untuk itu, upaya meningkatkan rasa cinta lingkungan melalui education camp diharapkan dapat menjadi wahana bermain yang mendidik bagi anak dalam
merangsang perkembangan anak melalui contoh konkrit. Education camp
diharapkan menjadi sebuah suplemen bagi
siswa SD untuk meningkatkan rasa cinta lingkungan. Oleh karena itu diperlukan
adanya program education camp bagi
siswa SD khususnya dalam meningkatkan rasa cinta siswa terhadap lingkungan. Adapun tahapan pelaksanaan dari education camp meliputi tahap
perencanaan, tahap pelaksanaan dan tahap evaluasi. Tahap perencanaan kegiatan yang dilakukan bersama-sama dengan anak-anak
SD.
DAFTAR
PUSTAKA
Anni,
Catharina Tri dkk. 2007Psikologi Belajar..
Semarang: UNNES Press.
Depdiknas. 2007.
Penataan Pendidikan Profesional Konselor
dan Layanan Bimbingan dan
Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Jakarta: Depdiknas.
Hamalik,
Oemar. 2007. Psikologi Belajar dan
Mengajar. Bandung: Sinar baru Algensindo.
http://pembelajaranguru.wordpress.com. Ciri kecenderungan belajar dan cara belajar anak SD dan MI. 2008 diunduh
pada tangggal 2 Oktober 2009.
Hurlock,
Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan.
Jakarta: Erlangga.
Munandar, S.C.
Utami. 1999. Mengembangkan Bakat dan
Kreativitas Anak Sekolah.
Jakarta: Grasindo.
Rifa’I, Achmad
dan Catharina Tri Anni. 2008. Psikologi
Pendidikan. Semarang: UNNES Press.
Rochmah,
Elfi Yuliani. 2005. Psikologi
Perkembangan. Ponorogo: STAIN Ponorogo
Press.
Romlah,
Tatiek.2001. Teori dan Praktek Bimbingan
Kelompok. Malang : Universitas
Negeri Malang
Sobur, Alex.
2003. Psikologi Umum. Bandung: CV.
Pustaka Setia.
Soeparwoto.
2007. Psikologi Perkembangan.
Semarang: UNNES Press.
Taryadi. 2004. Pendidik Sebaya. dalam http://www.
suaramerdeka. Com / harian / 0411/25/kot18.htm
diunduh 01 Maret 2010
Walgito, Bimo.
2004. Pengantar Psikologi Umum.
Yogyakarta: Andi Offset.
Wibowo, Mungin
Eddy. 2005. Konseling Kelompok
Perkembangan. Semarang: UNNES
Press.
Winkel. ,W.S.
dan Sri Hastuti. 2004. Bimbingan dan
Konseling di Institusi Pendidikan.
Yogyakarta: Media Abadi.
Yasa,
Doantara. 2009. Konsep Dasar Perkembangan
Belajar Peserta Didik. http://ipotes.wordpress.com
diunduh pada tanggal 2 Oktober 2009.
RINGKASAN
Anak merupakan generasi penerus
keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Perkembangan anak penting dijadikan
perhatian khusus bagi orangtua karena proses tumbuh kembang anak akan
mempengaruhi kehidupan mereka pada masa mendatang. Proses antara lain pada
tahapan sekolah dasar. Peserta didik usia SD/MI adalah semua anak yang berada
pada rentang usia 6-12/13 tahun yang sedang berada dalam jenjang pendidikan
SD/MI Karakteristik anak di SD antara
lain senang bermain, senang bergerak, senang bekerja dalam kelompok, senang
merasakan atau melakukan/memperagakan sesuatu secara langsung.
Salah satu hal yang perlu ditanamkan
sejak dini kepada anak adalah tentang kecintaan mereka terhadap lingkungan. Kecintaan
ini dapat dibentuk melalui suatu media. Media adalah sumber belajar. Salah satu
bentuk penerapan model pembelajaran yang efektif khususnya dalam meningkatkan
rasa cinta lingkungan adalah dengan mengajak siswa untuk berkemah (camping) guna memaknai dan melatih
ketrampilan siswa untuk mencintai dan melestarikan lingkungan sekitarnya.
Kegiatan berkemah (camping) di sini
bukanlah sekedar kegiatan berkemah yang hanya untuk bersenang-senang, akan
tetapi kegiatan ini bersifat mendidik dan melatih anak-anak untuk peka terhadap
lingkungan sekitarnya. Kemah yang semacam inilah yang kemudian dapat dikatakan
sebagai education camp. Education camp diharapkan menjadi sebuah
suplemen bagi siswa SD untuk meningkatkan rasa cinta
lingkungan. Oleh karena itu diperlukan adanya program education camp bagi siswa SD khususnya dalam meningkatkan rasa
cinta siswa terhadap lingkungan.
Adapun tahapan pelaksanaan dari education camp meliputi tahap
perencanaan, tahap pelaksanaan dan tahap evaluasi. Tahap perencanaan kegiatan yang dilakukan bersama-sama dengan anak-anak
SD. Pada tahap ini siswa SD telah
dipersiapkan untuk melakukan aktivitas pembelajaran pendidikan tentang
lingkungan memperoleh pengetahuan dan keterampilan tentang cara meningkatkan raca cinta lingkungan yang sesuai pada situasi kondisi alam yang
mereka tempati di kelompoknya masing-masing. Tahap
pelaksanaan rutin Education Camp meliputi kegiatan berkemah
yang diadakan setiap minggu dengan didampingi guru mata pelajaran pendidikan
lingkungan; Diklat Kader; Refleksi Alam; pelatihan keterampilan pembuatan alat pembersih
sampah, penanaman masal di sekolah dan memberi pupuk tempat perkemahan sebgaai
bentuk rasa cinta alam, pengevaluasian lembar evaluasi yang telah diisi. Pada tahap evaluasi, seluruh program kegiatan dievaluasi agar diketahui
sejauh mana tingkat keberhasilan, dari tahap persiapan sampai pelaksanaan
kegiatan. Salah satunya dengan menganalisis angket tentang pelaksanaan program
yang dibagikan kepada siswa SD peserta Education Camp. Penyusunan laporan dilakukan setelah seluruh program dilaksanakan. Program Education
Camp terdiri dari 5 kegiatan utama yaitu pembuatan, sosialisasi, dan evaluasi kegiatan Education
Camp; pertemuan rutin kelompok siswa SD; pelatihan keterampilan pembuatan
alat lingkungan; Diklat Kader; dan Refleksi alam. Secara umum kegiatan-kegiatan
tersebut dapat diterima oleh siswa SD dan dapat meningkatkan pemahaman siswa
terhadap pentingnya cinta lingkungan di daerah tersebut untuk memberikan
teladan dalam meningkatkan rasa cinta lingkungan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar