Kamis, 13 Maret 2014









USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

EDUCATION CAMP SEBAGAI UAPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA SISWA SD

BIDANG KEGIATAN:
PKM-GAGASAN TULIS




Diusulkan oleh:

Ihsanul Muflihin (13040112140152)




DAFTAR ISI

Halaman Judul…………………………………………………………………i
Lembar Pengesahan……………………………………………………………ii
Daftar Isi ……………………………………………………………………...iv
Ringkasan……………………………………………………………………...v

Pendahuluan …………………………………………………………………..1
Gagasan ……………………………………………………………………….4
Kesimpulan ……………………………………………………………………9

Daftar Pustaka ………………………………………………………………...10




PENDAHULUAN


Latar Belakang Masalah

            Belajar memegang peranan penting dalam kehidupan manusia baik yang berkaitan dengan perilaku manusia maupun cara berpikirnya. Menurut Anni (2007 : 2) konsep tentang belajar mengandung tiga unsur yaitu : perubahan tingkah laku sebagai wujud dari hasil belajar, perubahan perilaku tersebut didahului karena proses pengalaman, bersifat permanen. Belajar merupakan cara untuk meningkatkan sumber daya manusia. Proses belajar yang baik adalah belajar yang dilakukan sepanjang hayat. Meskipun proses belajar terus berlangsung selama usia manusia, namun lima tahun pertama usia anak bisa mempengaruhi kehidupan anak secara permanen.
            Perkembangan anak penting dijadikan perhatian khusus bagi orangtua karena proses tumbuh kembang anak akan mempengaruhi kehidupan mereka pada masa mendatang. Jika perkembangan anak luput dari perhatian orangtua (tanpa arahan dan pendampingan orangtua), maka anak akan tumbuh seadanya sesuai dengan yang hadir dan menghampiri mereka. Pertumbuhan anak dalam lingkungan sekolah dinamakan peserta didik. Departemen Pendidikan Nasional (2003) menegaskan bahwa, peserta didik adalah angota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui jalur, jenjang dan jenis pendidikan. Peserta didik usia SD/MI adalah semua anak yang berada pada rentang usia 6-12/13 tahun yang sedang berada dalam jenjang pendidikan SD/MI.
            Anak yang berada di kelas awal SD adalah anak yang berada pada rentangan usia dini. Masa usia dini ini merupakan masa perkembangan anak yang pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupannya. Oleh karena itu, pada masa ini  seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga akan berkembang secara optimal. Karakteristik pertama anak SD adalah senang bermain. Karakteristik ini menuntut guru SD untuk melaksanakan kegiatan pendidikan yang bermuatan permainan lebih – lebih untuk kelas rendah. Karakteristik yang kedua adalah senang bergerak, orang dewasa dapat duduk berjam-jam, sedangkan anak SD dapat duduk dengan tenang paling lama sekitar 30 menit. Karakteristik yang ketiga dari anak usia SD adalah anak senang bekerja dalam kelompok. Dari pergaulanya dengan kelompok sebaya, anak belajar aspek-aspek yang penting dalam proses sosialisasi, seperti: belajar memenuhi aturan-aturan kelompok, belajar setia kawan, belajar tidak tergantung pada diterimanya dilingkungan, belajar menerimanya tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang lain secara sehat (sportif), mempelajari olah raga dan membawa implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok, serta belajar keadilan dan demokrasi. Karakteristik yang keempat anak SD adalah senang merasakan atau melakukan/memperagakan sesuatu secara langsung. Ditunjau dari teori perkembangan kognitif, anak SD memasuki tahap operasional konkret. Dari apa yang dipelajari di sekolah, ia belajar menghubungkan konsep-konsep baru dengan konsep-konsep lama.
            Anak usia SD ditandai oleh tiga dorongan ke luar yang besar yaitu kepercayaan anak untuk keluar rumah dan masuk dalam kelompok sebaya; kepercayaan anak memasuki dunia permainan dan kegiatan yang memperlukan keterampilan fisik; dan  kepercayaan mental untuk memasuki dunia konsep, logika dan simbolis serta komunikasi orang dewasa.
Dengan demikian pemahaman terhadap karakteristik peserta didik dan tugas-tugas perkembangan anak SD dapat dijadikan titik awal untuk menentukan tujuan pendidikan di SD, dan untuk menentukan waktu yang tepat dalam memberikan pendidikan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak itu sendiri.
            Salah satu hal yang perlu ditanamkan sejak dini kepada anak adalah tentang minat baca. Membaca dapat menambah wawasan dan melatih anak untuk mempertajam analisis apa yamg dilihat. Akhir-akhir ini, bencana alam sering terjadi di berbagai belahan bumi. Pada tahun 2008 tercatat banjir dan tanah longsor terjadi di China, India bahkan sampai Eropa, angin topan terjadi di Amerika Serikat dan gempa bumi terjadi di China dan Jepang serta masih banyak lagi bencana-bencana yang terjadi di belahan bumi lainnya termasuk di indonesia. Masalah lingkungan hidup di Indonesia saat ini antara lain: penebangan hutan secara liar atau pembalakan hutan; polusi air dari limbah industri dan pertambangan; polusi udara di daerah perkotaan (Jakarta merupakan kota dengan udara paling kotor ke 3 di dunia); asap dan kabut dari kebakaran hutan; kebakaran hutan permanen/tidak dapat dipadamkan; perambahan suaka alam/suaka margasatwa; perburuan liar, perdagangan dan pembasmian hewan liar yang dilindungi; penghancuran terumbu karang; pembuangan sampah B3/radioaktif dari negara maju; pembuangan sampah tanpa pemisahan/pengolahan; semburan lumpur liar di Sidoarjo, Jawa Timur; hujan asam yang merupakan akibat dari polusi udara. Bencana alam yang disebabkan oleh ulah manusia harus disikapi dengan mengurangi akar permasalahan kenapa hal ini bisa terjadi (Asep, 2009).
            Pengembangan kecintaan anak terhadap lingkungan dapat diberikan melalui lingkungan keluarga maupun sekolah baik sekolah formal maupun non formal. Kecintaan lingkungan dapat diberikan pada semua tingkatan pendidikan mulai dari pendidikan prasekolah, pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Pengetahuan dan pengembangan kecintaan anak terhadap lingkungan juga sesuai dengan kurikulum pembelajaran di SD yaitu salah satunya materi tentang pengetahuan alam lebih menekankan pada objek fisik, kehidupan, bumi dan lingkungan. Dalam melaksanakan pendidikan anak usia sekolah dasar berorientasi pada kebutuhan anak, belajar melalui bermain,  lingkungan yang kondusif, menggunakan pembelajaran terpadu, mengembangkan berbagai kecakapan hidup, menggunakan berbagai media edukatif dan sumber belajar, dilaksanakan secara bertahap dan berulang –ulang.
            Media adalah sumber belajar. Secara luas media dapat diartikan dengan manusia, benda ataupun peristiwa yang membuat kondisi siswa untuk memungkinkan memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap (Gerlach dan Elly dalam Mudhofir, 1996 : 81). Terdapat banyak jenis dan macam media pembelajaran dari yang paling sederhana dan murah hingga yang canggih dan mahal. Berbagai jenis media pembelajaran yang sudah ada tidak akan dapat diketahui tingkat keberhasilannya apabila pengetahuan dan ketrampilan yang telah diterima oleh siswa belum dapat diterapkan. Salah satu bentuk penerapan model pembelajaran yang efektif khususnya dalam meingkatkan rasa cinta lingkungan adalah dengan mengajak siswa untuk berkemah (camping) guna memaknai dan melatih ketrampilan siswa untuk mencintai dan melestarikan lingkungan sekitarnya. Kegiatan berkemah (camping) di sini bukanlah sekedar kegiatan berkemah yang hanya untuk bersenang-senang, akan tetapi kegiatan ini bersifat mendidik dan melatih anak-anak untuk peka terhadap lingkungan sekitarnya. Camping yang semacam inilah yang kemudian dapat dikatakan sebagai education camp. Untuk itu, upaya meningkatkan rasa cinta lingkungan melalui education camp diharapkan dapat menjadi wahana bermain yang mendidik bagi anak dalam merangsang perkembangan anak melalui contoh konkrit.
            Dengan berlandaskan pada fakta tersebut, maka education camp diharapkan menjadi sebuah suplemen bagi siswa SD untuk meningkatkan rasa cinta lingkungan. Oleh karena itu diperlukan adanya program education camp bagi siswa SD khususnya dalam meningkatkan rasa cinta siswa terhadap lingkungan.


Tujuan
          Tujuan penyusunan program kreativitas mahasiswa gagasan tulis ini adalah untuk mendeskripsikan konsep Education Camp sebagai alternatif meningkatkan minat baca siswa SD dan mengkaji implementasi model Education Camp dalam meningkatkan minat baca siswa SD.

Manfaat
            Manfaat ini pembuatan proposal ini adalah memberikan kontribusi ilmiah pada bidang pendidikan anak usia dini berupa Education Camp yang dapat meningkatkan rasa cinta pada lingkungan dan memberikan kontribusi ide dalam upaya meningkatkan rasa cinta lingkungan bagi siswa SD.

GAGASAN

            Belajar dilakukan oleh setiap individu. Belajar memegang peranan penting dalam kehidupan manusia baik yang berkaitan dengan perilaku manusia maupun cara berpikirnya. Menurut Anni (2007 : 2) konsep tentang belajar mengandung tiga unsur yaitu : perubahan tingkah laku sebagai wujud dari hasil belajar, perubahan perilaku tersebut didahului karena proses pengalaman, bersifat permanen. Belajar merupakan cara untuk meningkatkan sumber daya manusia. Proses belajar yang baik adalah belajar yang dilakukan sepanjang hayat. Meskipun proses belajar terus berlangsung selama usia manusia, namun lima tahun pertama usia anak bisa mempengaruhi kehidupan anak secara permanen.
            Perkembangan anak penting dijadikan perhatian khusus bagi orangtua karena proses tumbuh kembang anak akan mempengaruhi kehidupan mereka pada masa mendatang. Jika perkembangan anak luput dari perhatian orangtua (tanpa arahan dan pendampingan orangtua), maka anak akan tumbuh seadanya sesuai dengan yang hadir dan menghampiri mereka. Pertumbuhan anak dalam lingkungan sekolah dinamakan peserta didik. Departemen Pendidikan Nasional (2003) menegaskan bahwa, peserta didik adalah angota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui jalur, jenjang dan jenis pendidikan. Peserta didik usia SD/MI adalah semua anak yang berada pada rentang usia 6-12/13 tahun yang sedang berada dalam jenjang pendidikan SD/MI. Jadi peserta didik berlatih untuk mengembangkan dirinya di luar keluarga.
            Awal pendidikan anak sekolah dasar yaitu anak yang berada pada rentangan usia dini. Masa usia dini ini merupakan masa perkembangan anak yang pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupannya. Oleh karena itu, pada masa ini  seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga akan berkembang secara optimal. Karakteristik pertama anak SD adalah senang bermain. Karakteristik ini menuntut guru SD untuk melaksanakan kegiatan pendidikan yang bermuatan permainan lebih – lebih untuk kelas rendah. Karakteristik yang kedua adalah senang bergerak, orang dewasa dapat duduk berjam-jam, sedangkan anak SD dapat duduk dengan tenang paling lama sekitar 30 menit. Karakteristik yang ketiga dari anak usia SD adalah anak senang bekerja dalam kelompok. Dari pergaulanya dengan kelompok sebaya, anak belajar aspek-aspek yang penting dalam proses sosialisasi, seperti: belajar memenuhi aturan-aturan kelompok, belajar setia kawan, belajar tidak tergantung pada diterimanya dilingkungan, belajar menerimanya tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang lain secara sehat (sportif), mempelajari olah raga dan membawa implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok, serta belajar keadilan dan demokrasi. Karakteristik yang keempat anak SD adalah senang merasakan atau melakukan/memperagakan sesuatu secara langsung. Ditunjau dari teori perkembangan kognitif, anak SD memasuki tahap operasional konkret. Dari apa yang dipelajari di sekolah, ia belajar menghubungkan konsep-konsep baru dengan konsep-konsep lama. Jadi anak umunya mencoba dan menirukan apa yang dia tangkap dengan apa yang dia ketahui sebelumnya.
            Salah satu hal yang perlu ditanamkan sejak dini kepada anak adalah tentang kecintaan mereka terhadap lingkungan. Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut (wikipedia.co.id). Akhir-akhir ini, bencana alam sering terjadi di berbagai belahan bumi. Pada tahun 2008 tercatat banjir dan tanah longsor terjadi di China, India bahkan sampai Eropa, angin topan terjadi di Amerika Serikat dan gempa bumi terjadi di China dan Jepang serta masih banyak lagi bencana-bencana yang terjadi di belahan bumi lainnya termasuk di indonesia. Masalah lingkungan hidup di Indonesia saat ini antara lain: penebangan hutan secara liar atau pembalakan hutan; polusi air dari limbah industri dan pertambangan; polusi udara di daerah perkotaan (Jakarta merupakan kota dengan udara paling kotor ke 3 di dunia); asap dan kabut dari kebakaran hutan; kebakaran hutan permanen/tidak dapat dipadamkan; perambahan suaka alam/suaka margasatwa; perburuan liar, perdagangan dan pembasmian hewan liar yang dilindungi; penghancuran terumbu karang; pembuangan sampah B3/radioaktif dari negara maju; pembuangan sampah tanpa pemisahan/pengolahan; semburan lumpur liar di Sidoarjo, Jawa Timur; hujan asam yang merupakan akibat dari polusi udara. Bencana alam yang disebabkan oleh ulah manusia harus disikapi dengan mengurangi akar permasalahan kenapa hal ini bisa terjadi (Asep, 2009).
            Pengembangan kecintaan anak terhadap lingkungan dapat diberikan melalui lingkungan keluarga maupun sekolah baik sekolah formal maupun non formal. Kecintaan lingkungan dapat diberikan pada semua tingkatan pendidikan mulai dari pendidikan prasekolah, pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Pengetahuan dan pengembangan kecintaan anak terhadap lingkungan juga sesuai dengan kurikulum pembelajaran di SD yaitu salah satunya materi tentang pengetahuan alam lebih menekankan pada objek fisik, kehidupan, bumi dan lingkungan. Dalam melaksanakan pendidikan anak usia sekolah dasar berorientasi pada kebutuhan anak, belajar melalui bermain,  lingkungan yang kondusif, menggunakan pembelajaran terpadu, mengembangkan berbagai kecakapan hidup, menggunakan berbagai media edukatif dan sumber belajar, dilaksanakan secara bertahap dan berulang –ulang.
            Media adalah sumber belajar. Secara luas media dapat diartikan dengan manusia, benda ataupun peristiwa yang membuat kondisi siswa untuk memungkinkan memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap (Gerlach dan Elly dalam Mudhofir, 1996 : 81). Terdapat banyak jenis dan macam media pembelajaran dari yang paling sederhana dan murah hingga yang canggih dan mahal. Berbagai jenis media pembelajaran yang sudah ada tidak akan dapat diketahui tingkat keberhasilannya apabila pengetahuan dan ketrampilan yang telah diterima oleh siswa belum dapat diterapkan. Salah satu bentuk penerapan model pembelajaran yang efektif khususnya dalam meningkatkan rasa cinta lingkungan adalah dengan mengajak siswa untuk berkemah (camping) guna memaknai dan melatih ketrampilan siswa untuk mencintai dan melestarikan lingkungan sekitarnya. Kegiatan berkemah (camping) di sini bukanlah sekedar kegiatan berkemah yang hanya untuk bersenang-senang, akan tetapi kegiatan ini bersifat mendidik dan melatih anak-anak untuk peka terhadap lingkungan sekitarnya. Kemah yang semacam inilah yang kemudian dapat dikatakan sebagai education camp. Untuk itu, upaya meningkatkan rasa cinta lingkungan melalui education camp diharapkan dapat menjadi wahana bermain yang mendidik bagi anak dalam merangsang perkembangan anak melalui contoh konkrit.
            Dengan berlandaskan pada fakta tersebut, maka education camp diharapkan menjadi sebuah suplemen bagi siswa SD untuk meningkatkan rasa cinta lingkungan. Oleh karena itu diperlukan adanya program education camp bagi siswa SD khususnya dalam meningkatkan rasa cinta siswa terhadap lingkungan.

Urgensi Educatian Camp dan Peranannya

Karakteristik yang ketiga dari anak usia SD adalah anak senang bekerja dalam kelompok. Dari pergaulanya dengan kelompok sebaya, anak belajar aspek-aspek yang penting dalam proses sosialisasi, seperti: belajar memenuhi aturan-aturan kelompok, belajar setia kawan, belajar tidak tergantung pada diterimanya dilingkungan, belajar menerimanya tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang lain secara sehat (sportif), mempelajari olah raga dan membawa implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok, serta belajar keadilan dan demokrasi. Karakteristik yang keempat anak SD adalah senang merasakan atau melakukan/memperagakan sesuatu secara langsung. Ditunjau dari teori perkembangan kognitif, anak SD memasuki tahap operasional konkret. Dari apa yang dipelajari di sekolah, ia belajar menghubungkan konsep-konsep baru dengan konsep-konsep lama. Jadi anak umunya mencoba dan menirukan apa yang dia tangkap dengan apa yang dia ketahui sebelumnya.
            Salah satu hal yang perlu ditanamkan sejak dini kepada anak adalah tentang kecintaan mereka terhadap lingkungan. Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut (wikipedia.co.id). Akhir-akhir ini, bencana alam sering terjadi di berbagai belahan bumi.
            Pengembangan kecintaan anak terhadap lingkungan dapat diberikan melalui lingkungan keluarga maupun sekolah baik sekolah formal maupun non formal. Kecintaan lingkungan dapat diberikan pada semua tingkatan pendidikan mulai dari pendidikan prasekolah, pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Pengetahuan dan pengembangan kecintaan anak terhadap lingkungan juga sesuai dengan kurikulum pembelajaran di SD yaitu salah satunya materi tentang pengetahuan alam lebih menekankan pada objek fisik, kehidupan, bumi dan lingkungan. Dalam melaksanakan pendidikan anak usia sekolah dasar berorientasi pada kebutuhan anak, belajar melalui bermain,  lingkungan yang kondusif, menggunakan pembelajaran terpadu, mengembangkan berbagai kecakapan hidup, menggunakan berbagai media edukatif dan sumber belajar, dilaksanakan secara bertahap dan berulang –ulang. Dengan berlandaskan pada fakta tersebut, maka education camp diharapkan menjadi sebuah suplemen bagi siswa SD untuk meningkatkan rasa cinta lingkungan.


Implementasi Program

Meliputi tahap perencanaan kegiatan yang dilakukan bersama-sama dengan anak-anak SD. Pada tahap ini  siswa SD telah dipersiapkan untuk melakukan aktivitas pembelajaran pendidikan tentang lingkungan memperoleh pengetahuan dan keterampilan tentang cara  meningkatkan raca cinta lingkungan  yang sesuai pada situasi kondisi alam yang mereka tempati di kelompoknya masing-masing.
            Tahap pelaksanaan rutin Education Camp meliputi kegiatan berkemah yang diadakan setiap minggu dengan didampingi guru mata pelajaran pendidikan lingkungan; Diklat Kader; Refleksi Alam; pelatihan keterampilan pembuatan alat pembersih sampah, penanaman masal di sekolah dan member pupuk tempat perkemahan sebgaai bentuk rasa cinta alam, pengevaluasian lembar evaluasi yang telah diisi.
            Pada tahap evaluasi, seluruh program kegiatan dievaluasi agar diketahui sejauh mana tingkat keberhasilan, dari tahap persiapan sampai pelaksanaan kegiatan. Salah satunya dengan menganalisis angket tentang pelaksanaan program yang dibagikan kepada remaja karang taruna. Penyusunan laporan dilakukan setelah seluruh program dilaksanakan.
            Adapun tahap-tahapnya adalah sebagai berikut:
Tahap Persiapan
            Tahap pertama merupakan tahap persiapan sosial. Pada tahap ini akan dipersiapkan ketua kelompok siswa SD dan pendamping masing-masing kelompok  kemah sebagai pengelola dan pelaksana kegiatan ” Education Camp”.
      ketua kelompok siswa SD dan pendamping masing-masing kelompok  kemah yang sudah dipersiapkan, diharapkan dapat mengkondisikan anggota-anggota kelompok yang lain untuk menggunakan ” Education Camp”. Luaran yang didapat dalam tahap ini adalah siswa SD bisa berpartisipasi dalam menerapkan ” Education Camp” yang berupa suplemen kegiatan untuk meningkatkan rasa cinta lingkungan

Tahap Perencanaan Kegiatan
      Kegiatan direncanakan bersama-sama dengan kelompok kemah yakni siswa SD dengan didampingi guru mata pelajaran. Tahap kedua merupakan tahap persiapan kader. Pada tahap ini, siswa SD tergabung dalam kelompok kecil dalam perkemahan yang telah dipersiapkan sebagai kader ”Education Camp” akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan tentang cara tambahan  untuk meningkatkan raca cinta lingkungan sekitarnya. Selanjutnya kader ”Education Camp” membuat perencanaan kegiatan yang sesuai dengan permasalahan lingkungan yang dihadapi siswa SD di kelompoknya masing-masing.

Tahap Pelaksanaan Rutin Education Camp
      Kegiatan Education Camp dilaksanakan satu minggu sekali secara bergantian antara satu sekolah yang ditunjuk pada  saat pertemuan kelompok siswa yang meliputi diskusi cara meningkatkan rasa cinta lingkungan; motivation Training pentingnya peran siswa dalam meningkatkan rasa cinta lingkungan dan dilanjutkan dengan diklat kader; pelatihan keterampilan membuat alat pembersih sampah misalnya tong  sampah yang diberi gambar bertema lingkungan; pemberian materi berhubungan dengan teladan, bimbingan, komunikasi yang baik bagi anak, serta penanaman agama lebih dini pada anak; pengevaluasian lembar evaluasi yang telah diisi anak-anak SD dalam angket “Education Camp” pada setiap pertemuan; pemberian hasil evaluasi yang disajikan dalam bentuk Kartu  Cinta Lingkungan (KCL) untuk mengetahui perkembangan pecapaian tujuan.

            Program Education Camp terdiri dari 5 kegiatan utama yaitu pembuatan,  sosialisasi, dan evaluasi kegiatan Education Camp; pertemuan rutin kelompok siswa SD; pelatihan keterampilan pembuatan alat lingkungan; Diklat Kader; dan Refleksi alam. Secara umum kegiatan-kegiatan tersebut dapat diterima oleh siswa SD dan dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap pentingnya cinta lingkungan di daerah tersebut untuk memberikan teladan dalam meningkatkan rasa cinta lingkungan. Hal ini dapat dilihat dari semakin aktifnya siswa SD untuk mengisi lembar evaluasi dari minggu ke minggu serta meningkatnya grafik Kartu Cinta Lingkungan yang terdapat dalam angket Education Camp.

Kontrak Waktu Education Camp

Kontrak waktu Education Camp adalah salah satu produk program Education Camp yang diperuntukkan bagi siswa SD dalam meningkatkan rasa cinta lingkungan. Kontrak waktu ini berisi kesepakatan antara siswa dan pendamping dalam membuat jadwal kegiatan kemah, pengetahuan akan lingkungan, pengenalan Education Camp dalam meningkatkan rasa cinta lingkungan, tips meningkatkan rasa cinta lingkungan, contoh alat dan cara meningkatkan rasa cinta lingkungan, lembar evaluasi  yang harus diisi oleh siswa setiap selesai kegiatan, serta Kartu  Cinta Lingkungan (KCL) untuk mengetahui pencapaian tujuan program.

Pertemuan Rutin Kelompok Siswa

Agenda kegiatan pertemuan rutin kemah siswa SD secara umum merupakan kolaborasi antara kegiatan yang biasa dilaksanakan setiap pertemuan rutin dengan program Education Camp yaitu pembagian, penjelasan, dan evaluasi Education Camp; penyuluhan tentang peningkatan rasa cinta lingkungan; diskusi lingkungan; serta pemberian materi berhubungan dengan cara meningkatkan rasa cinta lingkungan . Dalam penyampaian materi program Education Camp dilakukan kerja sama dengan lembaga lingkungan hidup, tokoh masyarakat atau pengisi acara agar lebih diperhatikan oleh siswa SD.

Diklat Kader

Agenda utama Diklat Kader yaitu penyuluhan tentang teladan dalam meningkatkan rasa cinta lingkungan. Hasil yang dicapai setelah kegiatan ini adalah siswa SD mengetahui pentingnya teladan, refleksi alam dan diskusi kelompok dalam meningkatkan rasa cinta lingkungan dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Peserta Diklat Kader merupakan kader penggerak siswa SD dan perwakilan sekolah lain.
Melalui berbagai tentang sisi positif meningkatkan rasa cinta pada lingkungan. Selain itu siswa yang mengikuti Eduction Camp benar-benar dapat menjadi model, mengembangkan rasa cinta terhadap lingkungan alam dan keterampilan dalam membuat alat dan menggunakan alat pembersih sampah misalnya sehingga anak dapat memahami kegiatan untuk meningkatkan rasa cinta lingkungan melalui membaca dengan adanya suatu suplemen tambahan yakni dalam kegiatan Education Camp.


KESIMPULAN

Perkembangan anak penting dijadikan perhatian khusus bagi orangtua karena proses tumbuh kembang anak akan mempengaruhi kehidupan mereka pada masa mendatang. Proses antara lain pada tahapan sekolah dasar. Peserta didik usia SD/MI adalah semua anak yang berada pada rentang usia 6-12/13 tahun yang sedang berada dalam jenjang pendidikan SD/MI Karakteristik anak di SD antara lain senang bermain, senang bergerak, senang bekerja dalam kelompok, senang merasakan atau melakukan/memperagakan sesuatu secara langsung.
Salah satu hal yang perlu ditanamkan sejak dini kepada anak adalah tentang kecintaan mereka terhadap lingkungan. Kecintaan ini dapat dibentuk melalui suatu media. Media adalah sumber belajar. Media dapat membuat kondisi siswa untuk memungkinkan memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Salah satu bentuk penerapan model pembelajaran yang efektif khususnya dalam meningkatkan rasa cinta lingkungan adalah dengan mengajak siswa untuk berkemah (camping) guna memaknai dan melatih ketrampilan siswa untuk mencintai dan melestarikan lingkungan sekitarnya. Kegiatan berkemah (camping) di sini bukanlah sekedar kegiatan berkemah yang hanya untuk bersenang-senang, akan tetapi kegiatan ini bersifat mendidik dan melatih anak-anak untuk peka terhadap lingkungan sekitarnya. Kemah yang semacam inilah yang kemudian dapat dikatakan sebagai education camp. Untuk itu, upaya meningkatkan rasa cinta lingkungan melalui education camp diharapkan dapat menjadi wahana bermain yang mendidik bagi anak dalam merangsang perkembangan anak melalui contoh konkrit. Education camp diharapkan menjadi sebuah suplemen bagi siswa SD untuk meningkatkan rasa cinta lingkungan. Oleh karena itu diperlukan adanya program education camp bagi siswa SD khususnya dalam meningkatkan rasa cinta siswa terhadap lingkungan.  Adapun tahapan pelaksanaan dari education camp meliputi tahap perencanaan, tahap pelaksanaan dan tahap evaluasi. Tahap perencanaan kegiatan yang dilakukan bersama-sama dengan anak-anak SD.




































DAFTAR PUSTAKA

Anni, Catharina Tri dkk. 2007Psikologi Belajar.. Semarang: UNNES Press.

Depdiknas. 2007. Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan            Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Jakarta:      Depdiknas.

Hamalik, Oemar. 2007. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar baru        Algensindo.

http://pembelajaranguru.wordpress.com. Ciri kecenderungan belajar dan cara        belajar anak SD dan MI. 2008 diunduh pada tangggal 2 Oktober 2009.

Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.

Munandar, S.C. Utami. 1999. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak           Sekolah. Jakarta: Grasindo.

Rifa’I, Achmad dan Catharina Tri Anni. 2008. Psikologi Pendidikan. Semarang:    UNNES Press.

Rochmah, Elfi Yuliani. 2005. Psikologi Perkembangan. Ponorogo: STAIN             Ponorogo Press.

Romlah, Tatiek.2001. Teori dan Praktek Bimbingan Kelompok. Malang :    Universitas Negeri Malang

Sobur, Alex. 2003. Psikologi Umum. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Soeparwoto. 2007. Psikologi Perkembangan. Semarang: UNNES Press.

Taryadi. 2004. Pendidik Sebaya. dalam http://www. suaramerdeka. Com / harian / 0411/25/kot18.htm diunduh 01 Maret 2010

Walgito, Bimo. 2004. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offset.

Wibowo, Mungin Eddy. 2005. Konseling Kelompok Perkembangan. Semarang:     UNNES Press.

Winkel. ,W.S. dan Sri Hastuti. 2004. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi.

Yasa, Doantara. 2009. Konsep Dasar Perkembangan Belajar Peserta Didik.           http://ipotes.wordpress.com diunduh pada tanggal 2 Oktober 2009.



RINGKASAN

            Anak merupakan generasi penerus keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Perkembangan anak penting dijadikan perhatian khusus bagi orangtua karena proses tumbuh kembang anak akan mempengaruhi kehidupan mereka pada masa mendatang. Proses antara lain pada tahapan sekolah dasar. Peserta didik usia SD/MI adalah semua anak yang berada pada rentang usia 6-12/13 tahun yang sedang berada dalam jenjang pendidikan SD/MI Karakteristik anak di SD antara lain senang bermain, senang bergerak, senang bekerja dalam kelompok, senang merasakan atau melakukan/memperagakan sesuatu secara langsung.
            Salah satu hal yang perlu ditanamkan sejak dini kepada anak adalah tentang kecintaan mereka terhadap lingkungan. Kecintaan ini dapat dibentuk melalui suatu media. Media adalah sumber belajar. Salah satu bentuk penerapan model pembelajaran yang efektif khususnya dalam meningkatkan rasa cinta lingkungan adalah dengan mengajak siswa untuk berkemah (camping) guna memaknai dan melatih ketrampilan siswa untuk mencintai dan melestarikan lingkungan sekitarnya. Kegiatan berkemah (camping) di sini bukanlah sekedar kegiatan berkemah yang hanya untuk bersenang-senang, akan tetapi kegiatan ini bersifat mendidik dan melatih anak-anak untuk peka terhadap lingkungan sekitarnya. Kemah yang semacam inilah yang kemudian dapat dikatakan sebagai education camp. Education camp diharapkan menjadi sebuah suplemen bagi siswa SD untuk meningkatkan rasa cinta lingkungan. Oleh karena itu diperlukan adanya program education camp bagi siswa SD khususnya dalam meningkatkan rasa cinta siswa terhadap lingkungan.
            Adapun tahapan pelaksanaan dari education camp meliputi tahap perencanaan, tahap pelaksanaan dan tahap evaluasi. Tahap perencanaan kegiatan yang dilakukan bersama-sama dengan anak-anak SD. Pada tahap ini  siswa SD telah dipersiapkan untuk melakukan aktivitas pembelajaran pendidikan tentang lingkungan memperoleh pengetahuan dan keterampilan tentang cara  meningkatkan raca cinta lingkungan  yang sesuai pada situasi kondisi alam yang mereka tempati di kelompoknya masing-masing. Tahap pelaksanaan rutin Education Camp meliputi kegiatan berkemah yang diadakan setiap minggu dengan didampingi guru mata pelajaran pendidikan lingkungan; Diklat Kader; Refleksi Alam; pelatihan keterampilan pembuatan alat pembersih sampah, penanaman masal di sekolah dan memberi pupuk tempat perkemahan sebgaai bentuk rasa cinta alam, pengevaluasian lembar evaluasi yang telah diisi. Pada tahap evaluasi, seluruh program kegiatan dievaluasi agar diketahui sejauh mana tingkat keberhasilan, dari tahap persiapan sampai pelaksanaan kegiatan. Salah satunya dengan menganalisis angket tentang pelaksanaan program yang dibagikan kepada siswa SD peserta Education Camp. Penyusunan laporan dilakukan setelah seluruh program dilaksanakan. Program Education Camp terdiri dari 5 kegiatan utama yaitu pembuatan,  sosialisasi, dan evaluasi kegiatan Education Camp; pertemuan rutin kelompok siswa SD; pelatihan keterampilan pembuatan alat lingkungan; Diklat Kader; dan Refleksi alam. Secara umum kegiatan-kegiatan tersebut dapat diterima oleh siswa SD dan dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap pentingnya cinta lingkungan di daerah tersebut untuk memberikan teladan dalam meningkatkan rasa cinta lingkungan.